Tidak ada seorang manusia yang dapat memilih akan dilahirkan seperti apa dia nantinya, begitu juga dengan saya. Saya tidak pernah bernegosiasi agar dilahirkan dengan rupa sempurna, dilahirkan ditengah keluarga yang luar biasa atau malah sebaliknya. Saya tidak bernegosiasi untuk tidak dilahirkan dalam rupa yang cacat baik fisik maupun mental, dilahirkan di keluarga yang kurang beruntung. Namun inilah kebesaran Tuhan, dia Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Bijaksan sehingga dia mengetahui dimana seorang bayi akan dititipkan dan seperti apa rupanya.

Rasa syukur yang teramat besar kepada Tuhan yang telah menciptakan saya dengan sebaik-baiknya bentuk. Tidak memiliki kekurangan fisik maupn mental. Menghadiahkan sebuah keluarga yang luarbiasa. Menjadikan saya seorang bayi yang dapat menangis, berbaring, telungkup, merangkak hingga akhirnya mampu berjalan dengan kaki sendiri. Menjadikan saya seorang perempuan yang dapat mengenyam bangku pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, SMA hingga angkirnya dapat kuliah. Menjadikan saya seorang yang mampu berbicara, membaca hingga dapat menulis.

Mungkin saya bukanlah orang yang teramat istimewa dan memiliki pengalaman hidup yang dapat menjadi inspirasi bagi kehidupan orang lain. Saya juga tidak memiliki paras yang cantik dan tidak memiliki prestasi yang berarti hingga dapat dibanggakan. Sehingga teramat sulit bagi saya untuk menuliskan sebuah kisah inspirasi yang harus diambil dari diri saya sendiri. Namun saya sadar kalau diri saya, diri kamu, diri anda, diri kita semua adalah sebuah inspirasi untuk diri kita.

****************

Ketika saya mendapatkan tugas MPKMB untuk menuliskan sebuah cerita inspirasi yang berkenaan dengan diri sendiri, saya sangat bingung harus menuliskan apa. Seperti halnya yang saya tuliskan sebelumnya, saya bukanlah siapa-siapa yang memiliki banyak pengalaman hidup yang dapat menginspirasi. Saya hanyalah seorang anak perempuan kedua dari tiga saudari. Saya tidak dilahirkan dengan memiliki bakat yang luar biasa yang sangat mencolok diantara yang lainnya. Saya tidak dilahirkan dengan kecerdasan yang tinggi sehingga mampu menyelesaikan sekolah lebih cepat dari semastinya. Saya juga tidak dilahirkan ditengah-tengah keluarga yang memiliki segalanya sehingga hanya dengan menjentikkan jari dapat dipenuhi semua keinginannya. Namun, saya juga tidak dilahirkan dengat tidak memiliki bakat apapun sehingga harus ditempa sekuat mungkin. Saya juga tidak dilahirkan dengan tingkat kecerdasan dibawah rata-rata sehingga saya harus mengikuti sekolah khusus. Saya juga tidak dilahirkan ditengah-tengah keluarga yang sama sekali tidak berada sehingga saya harus meminta-minta.

Saya berfikir bagai mana bisa saya menjadikan diri saya sebagai sebuah cerita yang mampu menginspirasi seseorang. Namun, pada saat itu juga lah saya sadar kalau saya memiliki hal yang sangat berharga yang tidak dimiliki oleh semua bai yang dilahirkan. Dan seringpula diaan tara mereka yang memiliki tidak menyadari bahwa mereka memilikinya. Sehingga sebagian dari mereka harus jauh-jauh untuk mencari sebuah inspirasi diri. Hal itu adalah sepasang kaki, sepasang mata, pendengaran, lidah dan pita suara serta kesehatan mental.

Banyak diluar sana mereka yang tidak mampu untuk berdiri dengan kaki sendiri, bukan karena mereka tidak ingin, tapi mereka tidak dianugerahi sepasang kaki untuk menopang tubuh ini. Ada pula mereka yang tidak bisa menyaksikan begitu indahnya alam ciptaan Tuhan YME ini, bukan karena mereka tidak mau menyaksikannya, namun mereka yang tidak dianugerahi sepasang mata sehingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk menyaksikannya. Tak jarang saudara-saudara kita diluar sana yang tidak dapat menikmati alunan musik alam nan indah, kicauan burung yang merdu, desiran suara air yang menghanyutkan buka arena mereka menutup telinga, namum mereka yang tidak diberi kesempatan untuk mendengarnya karena Tuhan memilih tidak memerikan pendengaran kepada mereka. Tidak kalah banyaknya teman-teman kita yang tidak diberi kesempatan untuk mengucapkan sendiri ide-ide kreatifnya, pikiran-pikiran cemerlangnya, kata-kata bijaknya, tuturkata lembutnya sekali lagi bukan karena mereka tidak mau melalukannya, tapi hanya saja Tuhan menganugrahkan kepada mereka lidah dan pita suara yang tidak seperti kita yang beruntung.

Tak jauh diluar sana masih banyak saudara-saudra kita yang diberi kesempurnaan fisik tapi tidak dibagian lainnya. Banyak mereka yang harus tetap bergantung pada orang-orang disekitarnya sampai mereka tua bahkan sampai raga tak lagi bernyawa bukan karena mereka yang ingin terus-terusan bergantung namun karena mereka memang tak mampu melakukan segala halnya dengan sendiri. Itulah mereka yang dilahirkan dengan berbagai jenis penyakit cacat mental.

Beberapa diantara mereka yang ketika didalam kandungan mendapati ayah mereka meninggal. Namun tak jarang suara tangisan pertama mereka berbarengan dengan hembusan nafas terakhir ibu mereka. Mereka yang tak sempat melihat sang ayah dan tak mampu mengingat wajah sang ibu, tapi mereka tetap hidup. Karana Tuhan selalu memberikan anugrah terindah-NYA untuk kita yang menyadarinya.

Bukanlah suatu hal yang mengada-ada jika saya, kamu, anda, mereka, kita semua bersyukur karena dilahirkan dengan sebaik-biknya bentuk. Dilahirkan dengan tangisan yang mengharukan. Diberikan kekuatan untuk berbaring, telungkup, merangkak, berjalan, hingga dapat berlari. Diberi kesempatan untuk melihat dan mengenal ayah dan ibu. Dan bukan pula suatuhal yang mustahil untuk kita dapat sukses dalam hidup, dapat marih cita-cita, harapan, impian setinggi mungkin. Semoga apa yang diri kita miliki dapat menjadi motifasi hidup kita, karena masih banyak mereka yang tak jauh diluar sana tidak seberuntung kita. Semangat untuk hidup, bangkit, berprestasi dan berjaya.

******************

Semoga apa yang saya tuangkan mampu membuat kita tidak lagi mengeluh telah dilahirkan dimuka bumi ini. Tidak lagi beranggapan bahwa tuhan tidak adil. Tidak lagi berprasangka bahwa kita orang yang paling tidak beruntung. Tidak lagi mengatakan bahwa kita tidak bisa. Karena begitu banyak hal yang kita miliki yang orang lain belum tentu memilikinya dan belum tentu orang lain seberuntung kita.